Oleh Bambang Karyawan Ys.
Lelaki itu memiliki sepasang mata yang tajam, seolah mampu menembus selapis demi selapis kepalsuan dunia, namun kata-katanya jauh lebih tajam dari tatapannya. Ia adalah seorang penyair yang memegang teguh keyakinan bahwa setiap bait yang ia tuangkan dalam diksi-diksinya adalah manifestasi dari kebenaran absolut. Baginya, kata-kata bukanlah sekadar gubahan estetika yang menghias kertas, melainkan sebuah mandat suci. Ia sering berkoar bahwa suaranya adalah suara Tuhan, vox populi, vox dei, yang harus didengar oleh siapa pun yang masih memiliki nurani.
Aku hanyalah satu dari jutaan jiwa yang terhipnotis oleh kekuatan pilihan diksinya. Ada semacam daya magis yang membuatku tak berdaya selain terus mengaguminya dalam diam. Setiap minggu, setidaknya satu kali, aku akan duduk terpaku di depan layar, menantikan postingan terbaru dari berbagai media online miliknya yang selalu segar. Ia tidak pernah kehabisan bahan. Masalah-masalah di negeri ini yang seolah tak pernah usai justru menjadi napas bagi puisi-puisinya.
Setiap kali membaca karyanya, aku membayangkan betapa luas perpustakaan yang tersimpan di dalam kepalanya. Aku sangat yakin bahwa beratus-ratus buku telah ia lahap habis hanya untuk meraup berbagai macam diksi yang tak lazim namun sangat tepat sasaran demi melahirkan metafora yang begitu menggigit. Kekuatan imajinasinya bukan datang dari ruang kosong, melainkan dari kedalaman literasi yang luar biasa.
“Bagaimana bisa membuat puisi yang teramat menggoda seperti itu?” tanyaku suatu kali melalui kolom komentar di media online, didorong oleh rasa penasaran yang membuncah. Ia memang tidak membalas pertanyaanku dengan deretan kalimat penjelasan, namun tindakannya di ruang publik adalah jawaban yang nyata. Ia menunjukkan bahwa puisi bukan hanya ditulis, tapi dihidupkan. Saat ia berdiri di atas podium, suaranya mampu menghipnotis para pendemonstrasi, membakar semangat mereka dengan gelora yang tak terpadamkan. Dari sanalah aku belajar, bahwa puisi yang menggoda adalah puisi yang mampu menggerakkan jiwa-jiwa yang tertidur.
Dunia seolah bertekuk lutut di bawah podium tempatnya berdiri. Ketika ia mulai menyuarakan baris-baris kalimatnya, semangat para pendemonstrasi akan langsung bergelora seperti api yang disiram bensin. Ia memiliki kemampuan untuk menghipnotis massa melalui rima dan intonasi yang penuh wibawa. Bahkan, belum lama gema suaranya hilang dari udara, sebaris dua baris puisinya telah dikutip, dijadikan quotes estetik, dan diviralkan melalui berbagai platform media sosial. Linimasa Instagram dan status WhatsApp penuh dengan potongan pemikirannya yang tajam.
Ketenarannya benar-benar tak terbendung dan menjadi pemberitaan utama di berbagai media. Namanya melambung tinggi, terbang dari satu studio podcast ke podcast lainnya. Di ruang-ruang digital itu, ia melontarkan kritik pedas melalui metafora yang begitu berani, hingga membuat telinga banyak pihak memerah saat mendengarnya. Aku adalah satu di antara jutaan pengikut setianya yang tanpa hari melewatkan untuk mengecek statusnya, menantikan sesuatu yang baru dan segar dari puisi-puisinya.
Ia telah menjadi magnet bagi massa. Setiap kali ia hadir dalam pelatihan menulis atau bincang puisi, tempat acara selalu dibanjiri oleh lautan manusia yang haus akan inspirasi. Dampak karyanya meluas ke berbagai varian konten, mulai dari musikalisasi puisi yang menyentuh jiwa hingga video-video pendek di media sosial. Hebatnya lagi, puisi-puisinya kini menjadi teks wajib dalam lomba-lomba pembacaan puisi tingkat nasional.
“Ini baru puisi,” ujarku dengan bangga sambil memamerkan karyanya kepada teman-teman di komunitas kepenulisan. Bagiku dan bagi banyak orang lainnya, ia bukan sekadar manusia biasa yang merangkai kata.Ia adalah personifikasi dari perlawanan, seorang penyair yang berani menyuarakan apa yang selama ini tersumbat di tenggorokan rakyat.
Namun, waktu adalah penguji yang paling kejam, sebuah rahasia yang mampu membolak-balikkan hati manusia. Seiring dengan ketenarannya yang termakan waktu, hampir semua awak media memburu dirinya demi mendapatkan pemberitaan terbaik. Popularitas yang memuncak itu membawa perubahan drastis. Pundi-pundi rupiah mulai singgah dan mengalir deras ke kantong sang penyair. Iklan-iklan tak henti-hentinya menghampiri, dan perlahan-lahan, wajah yang dulu dikenal sebagai simbol perlawanan kini mulai bersanding dengan berbagai kepentingan komersial.
Puncaknya adalah ketika tawaran politik datang mengetuk pintu kehidupannya yang kini serba mewah. Banyak pihak yang meminangnya untuk bergabung dalam pemilihan anggota legislatif. Godaan kekuasaan itu rupanya terlalu sulit untuk ditepis. Tak butuh waktu lama, pemandangan di jalanan kota berubah. Baliho-baliho besar yang menampilkan wajahnya sedang tersenyum lebar mulai menghiasi sudut-sudut keramaian, menggantikan poster-poster berisi kritik tajam yang dulu ia suarakan dengan lantang.
Sesuatu dalam dirinya mulai berubah secara fundamental. Waktu ternyata mampu membuat kata-katanya layu, bahkan mengering. Penyair itu kini telah disibukkan dengan urusan dunia yang gemerlap. Kesibukan dalam hiruk-pikuk pencitraan dan protokol politik perlahan menyedot habis imajinasi liar yang dulu menjadi kekuatannya. Sorot kamera blitz yang kini mengerumuninya tidak lagi menangkap aura seorang pembela kebenaran, melainkan hanya merekam sosok politisi yang sibuk memoles citra diri. Diksi-diksi kuat yang biasa ia tulis kini terasa tawar, tersedot oleh riuh tepuk tangan penonton yang menawarkan rasa semu.
Kejutan pahit itu akhirnya datang menyeruak ke permukaan, merobek nalar siapa pun yang pernah memujanya. Sang penyair, yang dahulu berdiri paling depan menantang tirani, kini justru menerima posisi sebagai pejabat tinggi di sebuah lembaga pemerintah. Tragisnya, lembaga yang kini ia pimpin adalah lembaga yang sama yang dahulu sering ia maki dengan penuh amarah, ia teror melalui bait-bait puisi tajamnya, dan ia tuduh sebagai sarang ketidakadilan yang harus diruntuhkan. Keadaan benar-benar telah berbalik. Ia kini menjadi bagian dari sistem yang dulu dikuburnya dalam sajak-sajaknya.
Kini, ia duduk diam di kursi empuk di balik meja jati yang mahal, dikelilingi oleh fasilitas mewah yang dulu ia kritik sebagai bentuk pemborosan uang rakyat. Namun, kemewahan itu tidak memberinya ketenangan. Puisi-puisinya yang dulu tajam dan membakar kini terasa seperti hantu yang bangkit dari masa lalu, mengepung dan mencekiknya perlahan. Ia menyadari sebuah kenyataan yang mengerikan. Ia benar-benar telah ditelan oleh kata-katanya sendiri. Setiap kebijakan yang ia ambil kini terbentur dengan larik-larik sajak yang pernah ia tulis, membuatnya terjebak dalam ironi yang ia ciptakan sendiri.
“Sinar blitz kamera dan publikasi tentang diriku ini … menggugurkan huruf-huruf yang pernah kubangun,” keluhnya dalam sunyi di tengah ruangan kantor yang dingin. Kesadaran itu menghantamnya dengan keras bahwa ia telah kehilangan jati dirinya. Ia bukan lagi sang penyair pembela kebenaran. Ia hanyalah seorang pejabat yang terjebak dalam lingkaran kekuasaan yang dulu ia kutuk. Huruf-hurufnya telah rontok satu per satu, menyisakan kekosongan di dalam hatinya yang kini telah terbolak-balik oleh jabatan.
Meski ada rasa sesak yang sesekali menghimpit dadanya, lelaki itu menemukan sebuah kenyataan pahit yang terasa manis di lidahnya. Berada di dalam lingkaran kekuasaan memberikan kenikmatan tersendiri yang tak pernah ia dapatkan saat masih menjadi aktivis miskin yang hanya mengandalkan idealisme. Kini, ia bukan lagi pengamat yang berteriak di pinggir jalan, melainkan pengendali yang duduk di kursi empuk kekuasaan. Ada kenyamanan yang membius dalam fasilitas pejabat yang kini ia nikmati, sebuah dunia yang dulu ia anggap sebagai musuh bebuyutan namun kini justru memanjakannya.
Suatu hari, dalam sebuah konferensi pers yang dipadati awak media, seorang wartawan muda dengan tatapan kritis bertanya kepadanya, “Bapak dikenal sebagai penyair besar yang suaranya dianggap sebagai suara Tuhan. Setelah kini berada di posisi puncak kekuasaan, apa definisi puisi bagi Bapak sekarang?”.
Lelaki itu terdiam membeku. Ia menatap lurus ke arah lensa kamera yang menyorotnya, mencoba mencari kembali diksi-diksi hebat yang dulu selalu tersedia melimpah di ujung lidahnya. Ia ingin menjawab dengan retorika yang memukau seperti dulu kala, namun ruang di kepalanya mendadak kosong melompong. Lidahnya kelu, seolah seluruh perbendaharaan kata yang ia kumpulkan dari beratus-ratus buku telah menguap tanpa sisa.
“Puisi itu…” ia menggantung kalimatnya, membiarkan keheningan yang canggung menyelimuti ruangan. Ia mencoba sekuat tenaga untuk meredefinisi kebenaran yang dulu ia puja dan ia teriakkan di atas podium, namun ia tak mampu melakukannya. Kata-katanya telah layu dan kering di bawah silau lampu jabatan.
Ternyata, ketika seorang penyair telah memakan puisinya sendiri demi mengejar jabatan dan kemewahan, ia tidak hanya kehilangan deretan kata-katanya. Ia kehilangan suaranya selamanya. Sang penyair tidak mati karena dibungkam atau dipenjara oleh penguasa. Ia mati karena ia telah menjelma menjadi penguasa yang dulu ia kutuk habis-habisan dalam bait-baitnya sendiri. Ia telah benar-benar terbenam, terkubur hidup-hidup di dalam nisan yang ia bangun sendiri dari tumpukan kertas-kertas puisinya yang kini tak lagi bermakna.
/Pekanbaru, 2026
————
Bambang Kariyawan Ys. Aktif berkarya bersama Forum Lingkar Pena. Karya buku cerpen terbaru “Tijah”. Penerima Anugerah Sagang, Acarya Sastra Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Anugerah Bahasa dan Sastra Balai Bahasa Provinsi Riau. Media sosial YouTube/Fb/IG: Bambang Kariyawan.
————
Sumber ilustrasi oleh Mimmo Paladino




Leave a comment