Puisi-puisi Andreas Mazland

bandan -Fatris M.F pais tiba di tanah asingterpencil dan dijauhi bahasa ibu:timur yang ditinggalkantimur yang sengaja dilupakan tapi dalam keterasingan itupais justru menemukanjejak pelayaran moyangnya pada hembus angin berbau paladalam bangkai-bangkai kapalyang membusuk di palungterdalam samudera di sini pais punya kenalanseorang nelayan tuayang dia pu kulitsama dengan dia pu nasib:dihitamkan peradaban nelayan itu mengajak paismenuju…

bandan

-Fatris M.F

pais tiba di tanah asing
terpencil dan dijauhi bahasa ibu:
timur yang ditinggalkan
timur yang sengaja dilupakan


tapi dalam keterasingan itu
pais justru menemukan
jejak pelayaran moyangnya


pada hembus angin berbau pala
dalam bangkai-bangkai kapal
yang membusuk di palung
terdalam samudera


di sini pais punya kenalan
seorang nelayan tua
yang dia pu kulit
sama dengan dia pu nasib:
dihitamkan peradaban


nelayan itu mengajak pais
menuju tepian dermaga
yang digulung-hempas ombak
pecah-berbuih serupa masa depan tanah ini
untuk bernyanyi dan menikmati sopi koli¹


setiap kali petikan ukelele
di malam sendu itu memasuki dadanya
ia akan berkidung serupa orang berdoa
pada sesuatu yang dianggap
telah lama mati di barat negeri ini


wahai gadis penjaga hutan pala
kami berlindung padamu
dari surat-surat berbahaya
yang setiap hari diterbitkan orang kota


2024

————

¹ Minuman khas Maluku dengan kadar alkohol 50%

pantun anak jati


-syarif usman


pelupuh batang malapari
pucuk menimpa akar jumbai
kaukata di nadimu mengalir darah nabi
lebih mulia dari darah yang memenuhi arteri kami


biar dua pantun seiring


orang pauh berkuda lima
satulah kuda patah kaki
kaukata mencari surga
tapi kauberi neraka untuk kami


biar tiga pantun tersusun


karatau madang di hulu
berputik-berbunga lamban
seekor ular bersarang di jantungmu
kau bunuh lagi seorang atas nama tuhan


2024

————

pelajaran sejarah


beratus-ratus tahun lalu
karena cengkeh dan pala
saat lampu-lampu bandar dihidupkan
negeri ini justru didatangi kematian
sejarah ditulis dengan darah
harga nyawa tak semahal rempah


“kakek memang pembual ulung
sudah ternama di segala tanjung
padahal di dalam buku sekolah
tidak tertulis separah itu”


aii kalera, percaya sajalah
sebab buku yang kaubaca di sekolah
ditulis oleh orang-orang ngantuk
makanya tak pernah kau tahu
ini negeri pernah punya mimpi buruk


lantaran tiap kali kapal
orang putih menepi di pulau ini
mereka berteriak-teriak dunia baru
tapi kami ketakutan
seperti melihat hantu


2023

————

sayid boco


seseorang dari jazirah asing
datang menemui kami
hidungnya besar seperti bekantan
matanya tersumbul serupa biji pala
kulitnya tidak putih, tidak pula hitam
hampir mendekati kering lada


dari kerut keningnya
kalian langsung tau
bahwa ia telah memintal
seluruh musim pelayaran
hanya untuk sampai kemari


“hai orang-orang pagan
kubeli sepetak tanah kalian
yang ditumbuhi cengkeh atau pala
dengan mahar segulung kain sutra
yang dia punya harga lebih mahal
dari kalian punya nyawa”


ia berlagak serupa nabi
yang dinubuatkan kitab suci
berbahasa melayu patah-patah
sebagaimana ibu menatah langkah bayi


tapi setelah
dimilikinya tanah ini
ia perlakukan kami
sebagai tuan rumah
sekaligus pencuri


2023

————

melamar orang darek


aku lelaki laut
keringatku garam
lidahku garam


semua yang kukata
adalah amuk ombak


jangan samakan aku
dengan padri berkuda berjanggut lebat
yang memutihkan jalur pendakian
menuju kampungmu beberapa kurun lalu


tapi kau mesti tau


samudera tiada berujung
yang meremukkan kapal orang eropa
dan merobek peta-peta mereka
telah kulayari dengan kemudi patah


aku lelaki laut
bahasaku arah angin
tulisanku arah angin


segala yang kuucap
adalah rahasia pulau-pulau


maka jangan samakan aku
dengan padri kampungmu
yang senang menandai kitab suci
dengan tinta merah itu


tapi aku bersumpah
demi hari lalu dan hari depanku
takkan pernah mengasah nama Tuhan
di atas tubuhmu yang lemah itu


2023

————


Biodata Penulis


Andreas Mazland, lahir di Banda Aceh. Senang menulis puisi, cerpen dan esai. Emerging Writers Balige Writers Festival 2023. Puisi-puisi dan tulisannya dapat ditemukan di berbagai media, seperti Tempo, Bacapetra, Media Indonesia dll. Bergiat di Mazhab Panam, labor sastra kecil di Kota Pekanbaru.

————

Ilustrasi oleh Margaret C. Cook. Sumber: themarginalian.org

Leave a comment