Setelah Tiga Dekade Terpisah, Zuriat Kesultanan Siak dari Luar Negeri Kembali Berkumpul di Tanah Leluhur

·

·


Suara tembang Melayu mengalun merdu dari dalam Gedung Tengku Mahratu, Siak Sri Indrapura, Kamis (9/7/2026) pagi. Satu per satu tamu mengenakan baju teluk belanga dan baju kurung mulai memenuhi ruangan. Hari itu berlangsung kegiatan bertajuk “Menyelusuri Jejak Warisan Zuriat Kesultanan Siak Sri Indrapura di Luar Negeri”, sebuah pertemuan bersejarah yang mempertemukan kembali para zuriat Kesultanan Siak setelah hubungan mereka terputus selama hampir tiga dekade.

Sebagai pembuka pertemuan, Ketua Siak Heritage, Tengku Bongsu Syed Ariev, mengatakan bahwa pertemuan tersebut merupakan hasil ikhtiar panjang para zuriat Sultan Siak di luar negeri yang selama lebih dari tiga puluh tahun berupaya mencari dan menghubungkan kembali keluarga mereka yang masih berada di tanah leluhur.

Menurutnya, terakhir kali rombongan zuriat Kesultanan Siak dari luar negeri berkunjung ke Siak terjadi pada 1996. Sejak saat itu, hubungan antarzuriat di dalam dan luar negeri perlahan terputus hingga akhirnya kembali tersambung melalui pertemuan ini.

Maka dari itu, setelah tiga puluh tahun berlalu, diadakan kegiatan untuk memilin-nyambung kembali ikatan darah antara zuriat Kesultanan Siak yang telah tercerai-berai di berbagai belahan dunia dengan para zuriat yang masih menetap di dalam negeri. Siak Heritage, Endemic, KORMI dan Pemerintah Kabupaten Siak serta para zuriat Kesultanan Siak yang berada di dalam negeri maupun luar negeri adalah penyokong utama kegiatan ini.

Acara berlangsung semakin khidmat, bukan hanya karena temu kenang antara para zuriat, tapi juga karena di dalam pertemuan itu dilangsungkan sebuah diskusi dengan tema yang sama. Diskusi ini sendiri dimoderatori oleh Siti Salmah (Pendiri Yayasan Berida Tutur) dengan pembicara Tengku Bongsu Syed Ariev, Tengku Said Eka Nusirhan, dan Irvan Gunawan.

Dalam forum itu, Tengku Bongsu Syed Ariev yang juga anggota tim pendamping Selangor Royal Family dan Johor Royal Family dalam bidang Sejarah Tata Kota dan Seni Budaya, berharap acara ini tidak berlangsung hanya sekali ini saja. Tapi, juga untuk seterusnya.

“Banyak orang bernama dan terkenal yang tak bisa disebut satu per satu yang merupakan anak jati Siak yang tersebar di berbagai belahan dunia, terutama di negeri serumpun. Maka dari itu, saya berharap suatu waktu mereka semua juga dapat berkumpul di Siak Sri Indrapura,” lanjutnya.

Harapan senada disampaikan Irvan Gunawan, mantan Wakil Ketua DPRD Siak periode 2004–2009. Ia berharap para anak jati Siak yang berada di luar negeri tetap mengingat asal-usulnya dan ikut berkontribusi dalam berbagai kegiatan yang membangun daerah di masa depan.

Sementara itu Tengku Said Eka Nusirhan berkata bahwa kegiatan ini juga dimaksudkan untuk memperkuat identitas Siak, dari para zuriat kesultanan, terutama yang berada di luar negeri. Bukan hanya sebagai jejak waris, tapi juga untuk generasi Siak di masa mendatang.

Sebagai bagian dari Tim Program Integrated Management of Peatland Landscape in Indonesia (IMPLI) di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, moderator kemudian mengajukan pertanyaan kepada Tengku Said Eka Nusirhan mengenai hubungan antara pelestarian budaya dan lingkungan.

Mana yang dulu hilang budaya atau lingkungan?

Menanggapi hal itu, Tengku Said Eka Nusirhan mengatakan bahwa sulit menentukan mana yang lebih dahulu hilang, budaya atau lingkungan, sebab keduanya saling berkaitan dan sama-sama menghadapi tantangan. Tapi menurutnya, sebagai manusia, juga sebagai anak jati Melayu, kita harus terus berusaha untuk menjaga itu dalam bentuk yang terlihat. Bukan hanya figura dalam lukisan. Kalau kita tak tahu jati diri, siapa lagi yang dapat menolongnya. Melayu itu bukan suku, bukan puak, tapi ras.

Sebagai penutup acara, Tengku Syed Abdul Fitri Rahimin, mewakili zuriat Kesultanan Siak yang tinggal di luar negeri dan juga selaku tamu yang membersamai forum, berkata bahwa ia dan keluarganya merasa bahagia atas hajatan ini, karena sudah tiga puluh tahun ia terputus hubungan dengan keluarga yang bertali darah dengannya di Siak.

“Selain itu saya juga amat bergembira telah menunaikan wasiat terakhir ayahanda saya sebelum mangkat agar saya dapat kembali memijak tanah dan meminum air negeri asal nenek moyang saya,” ucapnya dengan nada haru.
Kemudian ia meminta panitia untuk memutar video lawas di layar proyektor. Video itu diambil pada tahun 1996, saat ia dibawa ayahandanya mendatangi Siak untuk melihat tanah moyangnya, sekaligus menemui zuriat sultan yang berada di Siak Sri Indrapura untuk mengikat kembali ranji silsilah mereka.

Acara diskusi ditutup dengan peluncuran buku Menyelusuri Zuriat Sultan Siak Sri Inderapura di Luar Negara Indonesia secara resmi, di mana setiap orang yang hadir diminta untuk membubuhi tanda tangan di atas banner sebagai simbol peresmian dengan diiringi tembang lagu-lagu Melayu yang dibawakan Orkes Melayu Oghang Kampong (OMOK). (Berida)

Penulis Andreas Mazland

Editor Anta Permana

Fotografer Hermawan Hariadi

Leave a comment